Partisipasi SALIMAH Bulungan Kepada Para Korban Kebakaran Kampung Arab




Hari masih gelap para muslimin dan muslimah bersiap-siap memenuhi panggilan Allah SWT melalui muadzin. Udara di luar masih masih sangat dingin namun sebagian orang sudah mulai beraktivitas tapi tidak sedikit orang masih asyik dalam buaian mimpi dan menghiraukan panggilan Adzan.
        Tiba-tiba api muncul dari rumah salah seorang warga yang seakan ingin ikut berpartisipasi membangunkan orang-orang yang masih terlelap dalam tidurnya untuk segera menunaikan sholat shubuh, dan benar saja hanya terhitung beberapa menit dari awal kemunculannya berpuluh sampai beratus manusia datang menyaksikan bagaimana hebatnya si jago merah ini melahap tempat bernaung puluhan kepala rumah tangga yang berlokasi di Kampung Arab, Tanjung Selor, Kalimantan Utara.  Langit di Tanah Kampung Arab berubah menjadi hitam, sungai Kayan di depannya kelihatan merah, dan mobil petugas kebakaran berdatangan untuk memadamkan kobaran api, tidak banyak harta benda yang bisa diselamatkan karena api begitu cepat menjalar dan melahap rumah-rumah warga.

Senyuman Memesona


Seutas senyum yang ikhlas dan menceriakan itu ibadah

Bismillahirrohmanirrohim, 

Assalamualaikum sahabat Salimah yang berbahagia, seutas seyuman kami berikan hari ini. Di hari ini, kami berganti baju, kami berbenah dengan harapan agar kinerja kami semakin baik, dan blog ini semakin memberikan manfaat untuk semua.

Sahabat Salimah yang berbahagia! Seutas senyuman yang kita berikan hari ini, kepada sesama, teman sejawat, teman sekantor, sahabat kehidupan, keluarga, anak-anak adalah sebuah energi positif yang menceriakan,  dan bernilai ibadah. 

Seorang sahabat kami pernah berujar, bahwa ia merasa sangat tertekan bekerja di kantornya. Telisik punya telisik, ternyata itu semua hanya dikarenakan seorang kawannya yang selalu bersungut, marah, dan tidak pernah tersenyum. Suasana hati teman kantornya yang buruk, acapkali membuatnya lebih mudah mengeluarkan kata-kata menyakitkan, meninggikan suara, dan bertingkah pongah. Alhasil, rekan-rekannya yang setiap hari bersamanya pun menjadi jengah dan tidak lagi berempati. 

LINDUNGI KAMI


Karena hari sudah mulai sore saya berniat kembali keperaduan bagaikan burung yang kembali ke sangkarnya, karena tempat kembali saya setiap hari sepulang dari kantor satu-satunya adalah kosan, makanya saya hanya kembali ke satu sangkar, he...

Saat membuka pintu kamar kosan tak sengaja saya mendengar berita salah satu channel TV yang memberitakan dua orang wanita berinisial L dan HM telah melakukan perdagangan bayi dengan cara membeli bayi dari orang-orang miskin dengan harga beberapa juta dan dijualnya dengan harga kisaran enam puluh sampai delapan puluh juta, bayi-bayi tersebut dibeli oleh orang-orang yang yang tidak diamanahi keturunan, orng-orang yang ingin mengambil anak angkat dan pasarannya sampai keluar negeri, dan parahnya lagi perdaganagan bayi ini telah dilakoninya selama dua puluh tahun, dan berdasarkan pengakuan HM bahwa mereka telah menjual dan membeli bayi dengan jumlah sekitar seratus jiwa,  miris sekali hati ini mendengarnya.
Betapa tega para orangtua yang rela menjual darah dagingnya, anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan, bercokol dalam perutnya dan telah menjadi bagian dalam hidupnya dan tanpa disadarinya bahwa begitu banyak pasangan-pasangan diluar sana yang sangat mengaharapkan buah hati sampai mereka harus mengeluarkan materi, waktu, perasaan hanya untuk mendapatkan keturunan, sesungguhnya para orang tua tersebut tidak menyadari bahwa anak adalah titipan dari Allah yang harus dijaga, dipelihara, dirawat, diajarkan ilmu yang bermanfaat hingga sang anak bisa memberi manfaat dalam kehidupannya sendiri, keluarga, lingkungan, agama. Alasan klasik yang seringkali para orangtua utarakan karena faktor ekonomi mereka tega menjual darah dagingnya sendiri, mereka merasa tidak sanggup menghidupinya (memenuhi kehbutuhannya), dan biarkan saja dijual semoga mereka mendapatkan keluarga yang bahagia, sehingga ia bisa menjadi seorang yang bermanfaat untuk negara katanya, tapi apakah para orang tua ini tidak berfikir, jika yang membeli anaknya seorang mafia, penjahat kelas kakap, pengedar narkoba, apakah sang anak dijamin bisa menjadi anak yang baik?,  bisa jadi dia akan mengikuti orang tua angkatnya atau oarang tua angkatnya sengaja mendidiknya untuk meneruskan usahanya????? Nauzubillah.

Muslimah Wajib Bersolek!



sumber gambar: disin
Assalamualaikum Sahabat Salimah semua, bagaimana kabar hari ini? Mudah-mudahan senantiasa bersemangat untuk ‘mempercantik’ diri. Seperti bahasan kita kali ini, tentang bersolek.

Cantik. Menarik. Energik. Begitulah gambaran ideal tentang pesona seorang muslimah. Sebagai seorang istripun, di rumah, seorang wanita diharuskan tetap menjadi cantik, untuk suaminya. Sebaliknya, di luar rumah, kecantikan tetap memiliki tempat, tetapi porsinya dibatasi. Ada kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”(Q.S Al-Ahzab:59)

Pun beberapa adab-adab seorang muslimah yang senantiasa harus dijaga saat di luar rumah, seperti: tidak menampakkan perhiasan, tidak berlebih-lebihan dalam berdandan, tidak berjalan dengan menimbulkan suara gemerincing, tidak menggunakan wewangian hingga tercium selain darinya, menjaga suaranya, dan menjaga dirinya pada saat bepergian dengan senantiasa bersama mahromnya.

Seminar Enterpreneur "Mendorong Ekonomi Keluarga Melalui Wirausaha Mandiri"


Bekerja sama dengan Gabungan Organisasi (GOW) Kab. Bulungan, Salimah Kab. Bulungan Menyelenggarakan seminar bisnis dengan tema “Mendorong ekonomi keluarga melalui wirausaha mandiri” . Bertempat di Kantor Bupati Lama, Jl. Kol. Soetadji Tanjung Selor. Dalam seminar ini, Salimah menghadirkan pemateri dari semarang Jawa Tengah yaitu Bapak Faris Fanani, S. Psi Direktur BISA enterprise (Suplier, Event Management, Training Provider) serta Sekretaris INCCA Jawa Tengah.

Seminar ini dihadiri oleh 180 peserta yang berasal dari organisasi-organisasi wanita di Kabupaten bulungan serta pelaku bisnis yang ada di Tanjung selor. Dalam seminar ini Pemateri menekankan kepada para peserta untuk membang untuk membangun “One Family One Business”. Untuk mewujudkannya kita harus menghindari mitos-mitos enterpreneur yang ada dimasyarakat kita antara lain: 
1.   Enterpreneurship itu bukan untuk saya, kenyataannya enterpreneurship perlu dimiliki semua orang. 
2.  Selalu yang dibutuhkan adalah modal, kenyataannya terlalu mudah uang/kredit menjadikan kita bodoh.
3. Untuk sukses perlu produk yang unik/kreatif, kenyataannya sukses bisnis banyak lahir melalui produk biasa. 
4.  Agar cepat kaya harus cepat besar, kenyataannya besar tidak selalu kuat.
5.Kaya adalah gaya hidup, kenyataannya membangun kekayaan justru dengan cara yang simpel atau sederhana.

Pepatah Arab menyebutkan “ man jadda wa jadah” Siapa bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan” . Orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja pasti akan mendapatkan imbalan. Perlu diperhatikan bahwa setiap bekerja atau melakukan sesuatu harus dilandaskan dengan niat. Sebagaimana hadits nabi menerangkan yang di riwayatkan oleh Bukhari Muslim ” Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya menuju  (keridhoan ) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu kearah ( keridhaoan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia ( harta atau kemegahan dunia ) atau karena seorang wanita yag akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujuinya.”

Melalui Seminar ini Salimah Bulungan dan GOW Kab. Bulungan berharap masyarakat bulungan lebih bersemangat untuk menciptakan lapangan usaha guna memperkuat ekonomi keluarga melalui wirausaha mandiri.

Jazakillah Khairan Katsir




SURAT CINTA UNTUK IBU


Ibu, satu kata yang berarti sebutan untuk seseorang yang melahirkanku ke dunia, berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga agar aku bisa menghirup dan hadir sebagai mahluk Allah bernama Manusia di bumi Allah ini.


Ibu, kini anakmu telah dewasa dan begitu menyadari arti hadirmu dalam setiap langkahku mengarungi hidup yang tidak mudah ini. Ibu, engkau selalu hadir memberi segala apa yang aku butuhkan, tidak tanggung-tanggung jiwa dan raga kau pertaruhkan, ini terbukti ketika engkau berjuang mempertaruhkan jiwa dan ragamu untuk melahirkanku ke dunia.
Ibu, iya aku kini dewasa dan bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan tanganmu karena memang takdir menginginkan semua ini, ibu begitu jauh dari tatapan mataku, hingga diri ini kadangkala mengaharap ibu bisa tiba-tiba hadir di depanku (andai aku punya pintu ajaib seperti milik Doraemon, tapi semua hanya mimpi disiang bolong, he…) dan memelukku dan ku bisa menyentuh wajahmu yang kini mulai keriput dan melihat sinar matamu yang selalu memberiku semangat bila menatapnya.  
Meski ibu begitu jauh dari pandanganku namun kasih sayang dan do’amu selalu nanda rasakan disetiap langkah kaki ini dalam menapaki kehidupan.