Prioritas Pendidikan Karakter


“Cepat bosan karena banyak berlibur” inilah ungkapan yang pertama disampaikan oleh Muhammad Fauzil Adhim dalam seminar Parenting dan pendidikan, pada hari Sabtu, 19 Mei 2012 yang bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bulungan, seminar ini bertema tentang “10 Prioritas Pendidikan Karakter”, saya setuju dengan ungkapan beliau, karena saya sendiri mengalaminya dan mungkin anda sama seperti saya, empat hari ini dari hari kamis-minggu, merupakan hari libur, sehingga disaat tiba hari Senin maka muncul rasa masih ingin berlibur sehingga lahirlah rasa bosan untuk bekerja, namun disaat sudah mulai asyik dengan pekerjaan maka akan tumbuh rasa semangat.
Menurut beliau, kecerdasan, kerja keras harus ditumbuhkan dalam diri seorang anak  karena merupakan modal utama yang akan mengantar dia dalam berkehidupan bermasyarakat, seorang anak yang cerdas saja tidak cukup, tanpa dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencapai apa yang ia inginkan, dan dalam meghadapi hidup ini akan banyak sekali kesulitan-kesulitan atau ujian-ujian yang menghadang, namun setiap kesulitan akan selalu membawa kemudahan, kemudahan, kemudahan, yang artinya jika kesulitan dihadapi dengan iman maka satu kesulitan akan membawa tiga kemudahan. Dan yang pastinya kita akan bisa jika kita terbiasa (mudah menyelesaikn masalah karena terbiasa menghadapi masalah).

coba kita bayangkan seorang ibu yang selalu menghindarkan anak dari masalah dimasa sekarang, akan membawa penderitaan dimasa datang, beliau memberikan contoh dengan menceritakan tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan dan sang gadis menduduki posisi yang cukup diperhitungkan di perusahaan itu karena dia termasuk karyawan yang cerdas, setiap ada meeting di luar kota pasti sang pemuda ini akan menolak dan mencarikan pengganti dirinya, mengapa demikian? Ternyata pemuda berumur 25 tahun ini, makan masih harus disuapin ibunya, kalau dia makan sendiri maka akan belepotan, dan ini sangat membuatnya malu dan susah, dia akan lebih senang jika dihadapkan dengan setumpuk tugas-tugas kantor untuk diselesaikan dari pada disuguhi makanan untuk disantapnya sendiri,  Ini adalah sebuah contoh yang sebenarnya hal yang sepele, sehingga sangatlah benar bahwa “Bisa karena Terbiasa”. 

Akan tetapi bukan berarti perilaku yang berulang-ulang kita lakukan adalah suatu kebiasaan, adakalanya seseorang melakukan suatu tindakan secara rutin dan terus menerus, namun sebenarnya ia melakukan hal tersebut hanya jika ada sesuatu yang memaksanya untuk melakukan, misalnya anak yang megerjakan sholat hanya jika mendengar suara bapaknya yang keras. Ia melakukan hal tersebut setiap kali mendengar suara keras bapaknya karena ia mengenali suara tersebut seagai peringatan, jika tidak sholat maka dia akan menghadapi resiko yang lebih serius. Dalam hal ini sholat bukan merupakan suatu kebiasaan melainkan perilaku yang berulang-ulang, yang merupakan kebiasaan adalah tindakannya saat mereaksi suara bapaknya yang keras.

Karakter bersifat menetap, dalam arti sulit berubah-ubah. Karakter terbentuk melalu proses yang panjang, tidak ada satupun tindakan yang mampu secara instan mengubah atau membentuk karakter. Yang bisa berubah-rubah adalah perilaku. Seorang anak yang sejak kecil dimanjakan oleh orang tuanya, maka disaat sang anak beranjak remaja atau  dewasa maka akan terbentuk sifat yang tidak mandiri dan selalu mengharapkan bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, dia akan sangat sulit mengambil keputusan dan menyelesaikan masalahnya sendiri karena terbiasa dibantu oleh orang-orang terdekatnya. Namun diwaktu yang lama sang anak ini dihadapkan dengan kondisi dimana dia harus hidup sendiri (merantau bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan misalnya), diawal dia menghadapi situasi seperti ini mungkin saja sang anak akan stres, namun jika dia berusaha untuk memulai melakukan perubahan dan menerima kenyataan bahwa dia harus menjadi sosok yang mandiri dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, jika sang anak terus dipaksakan dalam waktu yang lama untuk menghadapi kondisi seperti ini maka sifat manja akan bisa menjadi mandiri, 
Ini berarti  karakater betapapun sulit diubah, tapi akan bisa berubah dengan melakukan proses terus-menerus, 
Seorang anak yang berkarakter keras akan bisa menjadi sosok yang lembut jika dia dihadapkan dengan kondisi yang mendukung hatinya untuk melembutkan hatinya. Berbeda lagi dengan anak yang biasa menampakan perilaku penurut di sekolah, tetapi di rumah ia tampil sebagai sosok yang pemberontak. Dalam hal ini yang berbeda bukan karakternya, tetapi perilaku atau pola perilaku.
Kembali ke Tema “10 Proiritas dalam Pendidikan karakter” menurut Muhammad Fauzil Adhim, yaitu:

1. Anak perlu diajari sopan santun, hidup rukun, jujur dalam segala sendi kehidupan dan harus selalu di atas segala-galanya, meskipun terasing, harmoni memang penting, tapi kebenaran tak bisa ditukar dengan harmoni. Tegaknya harmoni harus bertumpu kebenaran. Mengapa anak minder kalau tidak sama dengan yang lain? Mungkin jika saat anda harus memilih diantara dua kondisi yang mengharuskan anda memilih harmoni atau jujur sesuai apa adanya namun konsekuensinya anda harus berada pada kondisi menjadi tidak nyaman bagi anda, namun tetaplah ingat Allah bersama orang yang jujur.
2. Tumbuhkan prinsip, aturan memang harus ditegakkan, tetapi dahulukan prinsip. Aturan dibuat untuk menegakkan prinsip, dan sikap yang harus ditumbuhkan pertama kali adalah percaya pada guru, meurut cerita ustz. Fauzil Adhim, waktu beliau masih sekolah SMP, beliau dapat nilai Bahasa Inggris yang sangat memprihatinkan, dan nilai itu diperlihatkan kepada ibunya, namun apa kata ibu beliau yang terpenting adalah kemampuan bukan nilai, dan sang ibu menyarankan beliau untuk belajar kepada temannya yang pintar Bahasa Inggris, sehingga esok harinya beliau mendatangi temannya itu untuk belajar darinya, namun apa yang dikatakan sang teman yang pintar Bahasa Inggris   “you are stupid boy” , senanghlah hatinya sampai  beliau menghafalkan kalimat ini sampai kerumah, bukan hanya dihafalkan di bibir saja, tapi diteriakan “you are stupid boy...”, sehingga sampailah beliau di rumahnya dan bertemu sang bude yang notabene seorang guru bahasa Inggris, beliau kemudian menanyakan arti dari “you are stupid boy”, dengan sedikit tersenyum sang bude mengatakan bahwa you are stupid boy itu artinya “kamu laki-laki bodoh”, setelah beliau mengetahui artinya, apakah beliau marah, tidak, beliau tidak marah sama sekali, namun beliau menanyakan kepada budenya apa bahasa inggris dari “saya pintar”, sang bude pun mengatakan “I am clever” kalimat ini diteriakannya berualang-ulang sampai beliau  dianggap orang yang kurang waras kala itu, namun hal-hal kecil ini yang mengantarkan beliau menjadi sosok yang dikenali dunia.

3. Kita perlu bakat, perlu kemampuan. Tapi jauh yang jauh lebih penting dari itu adalah sikap, inilah hal mendasar yang perlu kita bangun, setiap anak  memiliki bakat yang diberikan Allah, dan kita berkewajiban memompa semanagat sang anak unutk lebih berprestasi, dan kita harus memberikan harapan yang tinggi, tapi harus menerima hasilnya dengan rasa syukur meskipun tidak sesuai dengan yang diharapkan, dia hal apapun itu anak seharusnya diajarkan untuk mengevaluasi setiap apa yang dikerjakannya.
4. Bukan Hasil yang paling penting, tapi tingginya harapan dan gigihnya megupayakan keberhasilan. Ketika kita telah bersungguh-sungguh dalam meraih apa yang jadi impian, namun hasil yang kita dapat tidak seindah yang diharapkan, bersabarlah, karena Allah tidak menilai apa yang engkau hasilkan, tapi yang menjadi nilai dimata Allah adalah sebesar apa usaha dan kesungguhanmu dalam meraih cita dan asamu, saya masih ingat kata guru saya, beliau seorang aktivis dakwah dan sangat besar girohnya memperbaiki umat, beliau punya seorang teman, dan temannya ini adalah sosok yang masih jauh berbeda dengan sang guru, temannya ini masih memakai pakain ketat dan jilbab transparan, sedangkan sang guru ini sudah sangat tertutup auratnya, setiap waktu sang guru selalu mengingatkan temannya ini untuk selalu melakukan perbaikan meskipun sedikit-sedikit, namun sang teman tidak menghiraukan ajakan sang guruku ini, namun sang guru yang sabar ini tidak menyerah begitu saja, sampai waktu berlalu bertahun-tahun, sehingga terbentuklah perubahan meskipun sedikit dalam diri sang teman ini. Andai saja sang guru ini tidak memiliki harapan dan tinggnya kegigihan dalam menolong sesame, maka mungkin saja sang teman ini tidak seperi sekarang ini.
5. Hargai setiap keberhasilan dan kegagalan, sukses bermakna sama terhormatnya dengan gagal bermakna dan kegagalan berharga lebih mulia daripada keberhasilan tercoreng,  harunsya kita malu sukses tanpa integritas. Pernah suatu waktu beliau (Ustz. Faudzil adhim)  mendapat nilai dari hasil ujian mata pelajaran Bahasa Jawa dan beliau mendapat nilai 70, beliu tidak menerima nilai 70 yang diberikan sang guru, beliau protes karena selama ini beliau sangat tidak faham dengan pelajaran bahasa Jawa dan sangat mengherankan kalalu mendapat nilai 70 yang seharusnya hanya bisa mendapat nilai 40, sehingga teman-teman yang lain tercengang dan mengatainya bodoh, karena ya seperti pengalaman-pengalaman pribadi jika kita mendapat nilai yang tinggi dari kemampuan maka sangat tidak mungkin kita melakukan hal yang sama.
6. Ketika allah memberikan kita ujian kegagalan berarti allah mempersiapkan yang terbaik untuk kita so Sukses dan gagal harus sama-sama kita hargai karena kedua-duanya adalah anugrah dari Allah SWT.
7. Ubah kesulitan dan hambatan menjadi peluang-peluang meraih keberhasilan. Pegangi talinya dan biarkan ia bebas bergerak. Kendalikan, tapi jangan kekang anak atau murid anda. Jadi, bukan kehendak bebas. Tetap arahkan anak untuk selalu melakukan kebaikan dan awasai serta evaluasi setiap apa yang anak lakukan, biarkan dia berkreasi dengan dunianya, berikan dia kebebasan untuk berkarya namun tetap dibawah pengawasan anda.
8. Ciptakan budaya karakter, seorang guru atau orang tua berbicara sampai berbusa-busapun tak ada artinya tanpa membangun karakter, bukan budaya prestasi.
9. Berendah hati meminta tolong sama pentingnya dengan berendah hati tatkala menerima pertolongan., setiap anak butuh kita dan kita butuh mereka, jangan sungkan meminta bantuan kepada anak, karena dengan meminta tolong kepada anak, akan melahirkan sikap suka menolong dan rasa dihargai karena mampu memberikan bantuan terhadap orang tuanya.
10. Kerahkan pikiran dan tenaga bagimana menginspirasi karakter.

Ada beberapa hal penting yang penulis dapat dari seminar Parenting dan pendidikan pada kesempatan ini, antara lain:
*      Kecerdasan, kerja keras harus ditumbuhkan dalam diri seorang anak karena merupakan modal utama;
*      Seiap satu kesulitan jika dihadapi dengan iman akan membawa tiga kemudahan ( 1 Kesulitan :3 kemudahan);
*      Ilmu ada dimana-mana, jadi jangan hanya berpatok mencari ilmu pada tempat-tempat formal;
*      Jika keyakinan dan kejujuran tergores maka itu yang lebih celaka;
*      Apa yang dikatakan gurumu, ikutilah dan berterimkasihlah;
*      Gunjingan orang adalah senjata untuk lebih maju;
*      Ubah kesulitan menjadi peluang;
*      Jadilah orang yang bermanfaat, orang bahagia karenamu, orang senang karenamu.

 ditulis oleh: Asrafiah Rauf

0 komentar: